1. Mentari Pagi Ini
Sinar mentari mulai menembus sela-sela daun, seolah berlomba-lomba untuk bisa mencapai bumi terlebih dahulu. Suara burung berkicau menambah riuhnya persaingan. Butiran embunpun tak mau kalah dengan persaingan mereka. Ia beranjak pergi meskipun harus meninggalkan bunga yang telah menyediakan kelopaknya untuk ia bersandar meski sesaat.
Hoshhh.. Aku menghela nafas panjang. Satu hari lagi harus kulalui, tak peduli seberapa putus asa dan lelahnya jiwa ini untuk menjalani kehidupan. Tapi, Tuhan tak mengijinkanku untuk berhenti. Aku melangkah perlahan menuju kamarku kembali. Sudah cukup menikmati pertunjukan pagi ini. Yahh,, itu adalah caraku untuk menikmati hidup. Hanya sesaat dan tak perlu banyak kata, kita bisa melihat isi dunia ini. Dimana dunia ini hanya berisi mengenai persaingan meski harus berhianat. Miris, tapi setidaknya memang itulah yang kulihat sejauh ini.
Kringgg....
"Halo Tania, kamu udah siap belum ?"
"Kayaknya aku ijin deh hari ini Ren, lagi nggak enak badan nih."
"Kamu sakit ?"
"Nggak kok, cuma butuh istirahat aja."
"Aku bawain sarapan ya, kamu mau apa ? Bubur ayam ? Kamu kan suka banget bubur ayam"
"Nggak usah Ren, aku udah beli kok. Tadi ada bubur ayam lewat."
"Ya udah, kamu jangan lupa minum obat ya.. Istirahat yang cukup, tidur aja. Nanti aku mampir."
"Makasih."
"Iya Tan,, See you."
Tuuutttt.. Aku mematikan telefon.