Kamis, 11 Juni 2015
ketika cinta menjadi kelabu
Cinta. Satu kata sederhana namun luas artinya. Aku tidak mengerti, apakah ini cinta sejati, ataukah hanya semacam fatamorgana yang muncul di tengah teriknya matahari. Aku tak mampun mengartikan ini semua. Aku hanya mampu mengartikan apa yang aku lihat. Namun, apa ini ? Kenapa jadi seperti ini ? Kenapa semuanya menjadi begitu suram ? Cinta yang selama ini begitu terang, begitu indah. Tiba-tiba seakan menjadi langit mendung yaang tak kunjung datang hujan.
Cinta yang begitu nampak nyata, seolah-olah sirna ketika ku melihat fotomu bersama wanita lain. Siapa dia ? Kekasih barumu ? Atau teman spesial mu ? Lalu aku ini siapa ? Bertahun-tahun kita menjalani hubungan bersama, merangkai satu demi satu kenangan manis hingga menjadi selembar kain yang cantik, kau hanguskan begitu saja dengan sebatang korek tak berarti. Aku mohon, kau jangan sebodoh ini !aku tau kau terlalu berkelas untuk melakukan hal sehina ini. Siapa dia ? Harusnya kau tau. Kau terlalu bodoh jika mengorbankan hubungan kita yang begitu berarti hanya untuk seorang bocah ingusan tukang tipu seperti dia. Ataukah mungkin dia begitu berarti untuk mu, sehingga kau begitu dengan mudahnya melakukan semua ini. Apakah kau lupa ? Itu sebutan manja kita, kenapa kau menyebut wanita itu dengan sebutan yang biasa kau ucapkan untuk ku ? Sesepesial itukah dia hingga dia bisa menempati tempat yang slama ini hanya untuk ku ? Apakah kamu ingat ketika kita bercanda, tertawa lepas, marahnya engkau jika sehari saja tidak bertemu. Lupakah engkau kita bersepeda dengan aku membonceng di belakangmu dan meniup gelembung sabun di sepanjang jalan ? Apakah kau lupa kau sering mengucapkan kata "love you" di tempat-tempat umum seakan kau terhipnotis ketika kau memandangku, hingga kau tak sadar banyak orang yang menertawai kekonyolan kita. Apakah kau tidak tau ? Banyak pasangan yang mengidam-idamkan hubungan seperti kita. Namun kenapa kau tak cukup pintar untuk menyadari itu ? Kenapa kau dengan gampangnya menyampakkan ku ?
Aku slalu bertanya-tanya, akankah kau menyesal ? Akankah kau menyadari perbuatanmu itu ? Taukah kau, kau adalah salah satu nama yang aku selipkan di setiap doa-doaku. Kebahagiaanmu dan kesehatanmu adalah hal yang aku panjatkan. Biar waktu yang membalas dan menegurmu. Sampai saat itu tiba, aku ingin tetap merengkulam pelukku dan mengajakmu kembali ke jalan yang kita lalui selama ini. Namun apakah itu mungkin ? Apakah aku masih sanggup melakukan itu semua ?
Entah. Aku tidak tau, aku minta maaf akan lemahnya perasaanku kini. Aku slalu menunggu kesadaranmu dengan ikhlas. Sampai beberaha hari kemudian aku tlah menjawabkan jawabanya, akhirnya kau menyesali perbuatanmu itu. Jangan, jangan kau menangis. Sejahat-jahatnya kau, aku tak pernah ingin melihatmu menangis, mendengarmu terisak-isak hanya untuk memintaku kembali padamu. Asal kau tau, aku tetap menyayangimu. Meskipun hatiku telah tersayat hingga hancur, hati ini masih milik mu utuh. Aku tetap mencintaimu. Aku tak mengerti kenapa bisa begini, namun itulah adanya. Hentikan tangisanmu mas, cintaku hanya untukmu. Tapi maaf, aku sudah tidak dapat kembali padamu untuk sekarang ini. Kau sudah keterlaluan. Aku sudah tidak dapatt mengikhlaskan kesalahanmu begitu saja. Sayang, hentikan tangisanmu itu. Tanganku kan slalu mengusap air matamu. Meski itu air mata pertama yang kulihat darimu setelah 3.5 tahun kita menjalin hubungan. Tanganku kan slalu ada untuk mu. Meski tanganmu tak pernah mengusap air mataku. Karna ku tahu, kau tak pernah tega melihatku menangis. Itu sebabnya kau tak pernah menghapus air mataku. Aku tau itu.
Hentikan isakanmu sayang, jangan berpikir ingin membangunkanku di tengah malam untuk menyatakan keinginanmu untuk bersamaku lagi. Karna kau tau apa ? Aku tak mungkin bisa terlelap sebelum mendengar kau pulang kerja dengan selamat. Diam-diam kau masih menjadi salah satu tokoh dalam hati dan doaku. Namun maafkan aku, aku sudah tidak mampu bersamamu lagi. Aku terlalu lemah untuk memberi mu kesempatan lagi.aku percaya bahwa kau telah menyesali perbuatan bodoh mu itu, tapi aku belum yakin bahwa. Kau menyadarai perbuatan mu itu. Biarkan Tuhan dan waktu yang menjawab, akankah kita memang pantas bersatu. Jika iya, biarkan kita bersatu pada ikatan suci nan sakral. Aku tak tau bagaimana takdirku kelak. Tapi aku tak ingin menghakimimu. Tapi percayalah, bila kita memang berjodoh, Tuhan akan menyatukan kita dengan keadaan dan waktu yang lebih tepat dari sekarang.
Langganan:
Komentar (Atom)
Embun dan Bunga
1. Mentari Pagi Ini Sinar mentari mulai menembus sela-sela daun, seolah berlomba-lomba untuk bisa mencapai bumi terlebih dahul...